Pagi itu, hampir 60 tahun yang lalu, penduduk Desa
Pahandut, yang terletak di tepi Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah,
bersorak gembira. Mereka menyambut kedatangan seorang tamu besar dari
Jakarta.
Tamu yang dielu-elukan tersebut tak lain adalah Presiden
Sukarno. Ia didampingi beberapa menteri Kabinet Karya. Pada Rabu, 17
Juli 1957, itu, Sukarno juga mengajak Duta Besar Amerika Serikat untuk
Indonesia Hugh Cumming Jr, Duta Besar Rusia D.A. Zukof, dan Raja
Kasunanan Surakarta Sri Sunan Pakubuwono XVII.
Rombongan pejabat
itu menaiki perahu menuju Pahandut, yang berada di pedalaman Pulau
Borneo. Rencananya, Sukarno bakal meresmikan pembangunan Kota Palangka
Raya di kawasan rimba raya itu sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan
Tengah.
Delapan bulan sebelumnya, pemerintah pusat mengesahkan
Kalimantan Tengah sebagai provinsi baru di Indonesia setelah adanya
tuntutan dari masyarakat eks Daerah Otonom Dayak Besar dan Swapraja Kota
Waringin sejak 1952. Saat itu seluruh Kalimantan menjadi satu provinsi.
Presiden Sukarno memotong rotan menandai peresmian kota baru Palangka Raya. Foto: dok. via YouTube fIlm dokumenter Provinsi Kalimantan Tengah
Peresmian Palangka Raya ditandai dengan pemotongan rotan (manetek eui)
oleh Sukarno didampingi Tjilik Riwut, tokoh pembentukan Provinsi
Kalimantan Tengah, yang kemudian menjadi gubernur pertama Kalimantan
Tengah. Sebuah tiang kayu ulin (tabalien) dipancangkan sebagai simbol dimulainya pembangunan Kota Palangka Raya.
Seorang
tokoh adat Dayak, Sabran Achmad, kini 87 tahun, ikut hadir menyaksikan
momen-momen bersejarah itu. Sukarno, katanya, berpidato berapi-api. Ia
mengatakan Kalimantan Tengah adalah provinsi ke-17 di Indonesia yang
telah lama dicita-citakan.
Namun, Sabran, yang waktu itu duduk
di bangku kuliah, tak mendengar Sukarno mengatakan Palangka Raya pada
masa depan akan dijadikan ibu kota RI pengganti Jakarta. “Kalau di
forum-forum lainnya di Banjarmasin, saya tidak tahu,” katanya.
Rencana
Sukarno memindahkan ibu kota ke Palangka Raya pada masa lalu itu sudah
lama menjadi perbincangan. Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Palangka
Raya, Wijanarka Arka, meyakini Sukarno mempunyai rencana besar terkait
Palangka Raya.
Memang, kata Wijanarka, hingga saat ini belum
ditemukan bukti sejarah, baik dokumen maupun audiovisual, yang berisi
pernyataan Sukarno tentang Palangka Raya bakal menjadi ibu kota negara.
Namun pemindahan itu kerap disebut oleh menteri-menteri Sukarno.
Pekerja menyelesaikan pembangunan infrastruktur di kota baru Palangka Raya. Foto: dok. via youtube fIlm dokumenter Provinsi Kalimantan Tengah
Misalnya Ruslan Abdul Gani, yang pernah menjabat
Menteri Penerangan dan Ketua Indoktrinasi Manipol USDEK pada era
Sukarno. “Pak Ruslan pernah bilang bahwa Palangka Raya akan dijadikan
ibu kota pengganti Jakarta,” katanya kepada detikX.
Sukarno
memilih Palangka Raya karena letaknya yang berada di tengah-tengah
Indonesia. Selain itu, tanah yang tersedia masih sangat luas. Sukarno
juga ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu membangun
sebuah kota baru.
Sukarno tampaknya sudah menyiapkan grand design
bagi Palangka Raya. Hal itu terlihat dari desain Kota Palangka Raya,
yang berubah dari rencana semula. Ketika baru dicanangkan pada 1957,
desain kota tersebut masih sangat sederhana.
Lalu muncul desain
baru, ada pola jalan yang mirip dengan jaring laba-laba. Di Jalan Yos
Sudarso juga ada sebuah bundaran besar dengan sumbu delapan buah. Pola
itu mirip dengan bentuk ibu kota Amerika Serikat, Washington, DC.
“Nah,
saya melihatnya yang jaring laba-laba itu kelihatan seperti sebagai ibu
kota negara. Karena di situ ada semacam sumbu, di Jalan Yos Sudarso,”
kata Wijanarka, penulis buku Sukarno dan Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangka Raya.
Monumen pembangunan Kota Palangka Raya Foto: Edward Febriyatri Kusuma/detikcom
Prasasti pemancangan tiang pertama Kota Palangka Raya Foto: Edward Febriyatri Kusuma/detikcom
Pada 1959 juga pernah
muncul sketsa sebuah bangunan besar penuh orang yang disebut-sebut
dibuat oleh Sukarno. Bangunan itu adalah untuk kantor gubernur. Apakah
akan dilanjutkan sebagai istana negara, Wijanarka tak bisa memastikan.
Tahun
itu juga Sukarno kembali mengunjungi Palangka Raya untuk mengecek
sejauh mana pembangunan kota tersebut. Mengapa kelanjutan Palangka Raya
sebagai ibu kota meredup, Wijanarka menduga berkaitan dengan
penyelenggaraan Asian Games pada 1962.
“Akhirnya tetap di Jakarta
itu kan (ibu kota). Dibangun Bundaran Hotel Indonesia kan untuk
menyambut kontingen-kontingen. Saya menduga seperti itu. Dan waktu itu
jalan darat belum ada di Palangka Raya, masih sungai-sungai,” dia
menandaskan.
Buku sejarah resmi Palangka Raya yang diterbitkan
pemerintah kota setempat menyebut Sukarno berperan dalam memikirkan
rancangan Palangka Raya. Namun, berdasarkan susunan tata ruang yang
mirip Eropa, pengaruh Ir Van der Pijl lebih terasa.
Van der Pijl adalah asisten Tjilik Riwut ketika masih menjabat
residen di Kementerian Dalam Negeri RI. Van der Pijl pulalah yang
merancang seluruh bangunan kantor Pemprov Kalimantan Tengah yang hendak
dibangun. Roeslan Abdulgani, Menteri Penerangan dan Ketua Indoktrinasi Manipol USDEK pada pemerintahan Sukarno. Foto: dok. Wikipedia
Dalam sebuah wawancara yang terunggah di situs YouTube, Ruslan Abdul
Gani menceritakan bagaimana usaha Sukarno merealisasi rencana pemindahan
ibu kota tersebut. Jakarta pada waktu itu dipandang sangat rentan
terhadap kepentingan-kepentingan asing. Mulanya Sukarno
menampung berbagai usulan ibu kota baru itu dalam rapat Dewan Nasional.
Dalam rapat tersebut, muncul beberapa opsi calon ibu kota, antara lain
Subang di Jawa Barat dan Yogyakarta. Nah Tjilik Riwut mengusulkan kenapa
tidak ke Palangka Raya saja.
Secara geografis, Palangka Raya terletak di tengah Indonesia. Memang
sarana transportasi belum memadai. Kalau dipindahkan ke Kalimantan
Tengah, ibu kota tidak akan diganggu oleh kepentingan asing.
“Ini gagasan Tjilik
Riwut yang diterima seluruh Dewan Nasional, sehingga Bung Karno
membentuk suatu panitia untuk menyelidiki itu. Anggotanya B.M. Diah
(almarhum), Henk Ngantung dari Jakarta, dan beberapa wakil perdana
menteri,” kata Ruslan.
Sukarno, ujar Ruslan, sangat
tercengang oleh gagasan Tjilik Riwut dan sangat tertarik dengan gagasan
pemindahan ibu kota ke Kalimantan Tengah. Sebab, kalau melihat seluruh
Indonesia, pusatnya memang berada di Palangka Raya. Wijanarka Arka, dosen Jurusan Arsitektur Universitas Palangka Raya Foto: dok. pribadi via Facebook
Ruslan pernah diperintah Sukarno ke Palangka Raya untuk meresmikan
tugu yang waktu itu dikenal sebagai Tugu Dewan Nasional. Menurut
Sukarno, di situlah pusat ibu kota yang baru. Namun perlahan-lahan
proyek ibu kota negara itu terlupakan.
“Ini gagasan yang berani, sangat melihat ke masa depan. Tapi
sayangnya, waktu itu ganti lagi kabinet-kabinet yang tidak memikirkan
(perpindahan ibu kota),” ujar Ruslan, yang wafat pada 2005.
Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam,
menuturkan alasan batalnya pemindahan ibu kota itu juga karena
keterbatasan material untuk pembangunan di Palangka Raya. Selain itu,
dana yang dibutuhkan sangat besar.
Sekarang ini, menurut Asvi, kondisi sudah berbeda. Bila rencana
pemindahan ibu kota jadi dilaksanakan, hambatannya lebih pada faktor
psikologis, termasuk pejabat-pejabat pemerintahan, apakah menerima atau
tidak bekerja di Kalimantan.
“Pejabat di Jakarta, meski macet,
mereka punya pengawal, mobil yang bisa jalan menembus kemacetan, jadi
sudah nyaman. Saya kira penolakan-penolakan juga akan muncul dari
pejabat-pejabat yang tidak mau meninggalkan Jakarta,” kata Asvi kepada
sumber : https://x.detik.com/detail/investigasi/20170509/Mimpi-Sukarno-di-Rimba-Palangka-Raya/index.php
1. Rusia Sejak abad ke-14 hingga 1712, Moskow menjadi ibu kota dari Kerajaan Rusia. Setelah itu ibu kota Negara Beruang Merah itu dipindahkan ke St. Petersburg agar lebih dekat ke Eropa. Namun pada 1918 setelah Perang Dunia Pertama, Moskow kembali jadi Ibu Kota Rusia. Data 2010 menunjukkan ada 11,5 juta warga tinggal di Moskow. Kota dengan luas 2.511 kilometer persegi ini menjadi pusat pemerintahan, politik, ekonomi, budaya dan ilmu pengetahuan Rusia 2. India Kota Kalkutta di sebelah timur India menjadi ibu kota India saat masih dikuasai Inggris hingga 1911. Pemerintah Inggris kemudian memindahkan ibu kota itu ke kota sebelah utara yakni Delhi untuk menjalankan administrasi pemerintahan yang lebih baik. Akhirnya New Delhi dinyatakan sebagai ibu kota India pada 1947 saat proklamasi kemerdekaan. Kota metropolitan seluas 1.484 kilometer persegi ini dihuni sekitar 11 juta jiwa. 3. Brasil Karena terlalu padat, ibu kota Brasil akhirnya dipindahkan dari...
Mau Pindahkan Ibu Kota ke Luar Jawa, RI Belajar dari Brasil Ibu kota rencananya akan dipindah dari Jakarta ke luar Jawa. Rencana ini sedang dikaji Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Dalam kajian itu, Bappenas juga mempelajari proses pemindahan ibu kota di negara lain. Salah satunya Brasil, yang memindahkan ibu kota dari Rio de Janeiro ke Brasilia. "Sekarang ini Brasilia perkembangannya selain jadi ibu kota juga bisa membuka perekonomian di daerah pedalaman Brasil dan sekarang jadi kota ketiga terbesar di Brasil," tuturnya di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (11/4/2017). Menurut Bambang keputusan dari pemerintah Brasil saat itu cukup tepat. Sebab, Rio de Janeiro berada di ujung Brasil, sementara wilayah utara seperti Amazon masih banyak penduduk miskinnya. "Daerah Amazon yang banyak kemiskinan jauh sekali di utara, sementara Rio de Janeiro jauh di selatan. Sehingga dia memilih ibu kota Brasilia yang lebih dekat deng...
Komentar
Posting Komentar